Wednesday, January 13, 2010

Hikayat Sang Pohon Cantik

Nun, di sebuah hutan belantara tumbuhlah sebatang pohon yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jutaan pohon yang lainnya. Ia memiliki batang yang sangat lurus dan tegak, akarnya yang kukuh, serta aroma khasnya yang harum, semerbak, memenuhi seluruh isi hutan. Sehingga tidaklah menjadi hairan, ramai sekali para pencari kayu bakar yang merasa tertarik kepada pohon itu. Bahkan ramai yang berniat baik untuk turut memelihara keindahan pohon itu. Dengan senang hati mereka membiarkan pohon tersebut tetap tumbuh.

Sering kali mereka menyempatkan diri untuk menyiraminya dengan air yang diperoleh dari lubuk bening di pinggir hutan. Semua itu mereka lakukan dengan penuh harap agar suatu saat kelak, di alam yang mulai penuh dengan kerosakkan ini, Sang Pohon Cantik akan tumbuh dengan sejuta pesona. Memberikan warna perubahan bagi siapa saja, untuk lebih mencintai lingkungan mereka dan berhenti membuat kerosakan.

Sementara bagi para penebang pohon yang liar, keberadaan pohon cantik itu sangatlah mengganggu. Mereka sedar, apabila pohon tersebut tumbuh dengan baik, maka akan banyak perhatian yang akan tertuju kepada hutan itu. Perhatian yang tentu saja membuat langkah mereka semakin sulit dalam membuat kerosakan di dalam hutan itu. Para penebang pohon yang liar itu berikrar, mereka akan memindahkan pohon cantik itu ke halaman rumah-rumah mereka. Tetapi kalau tujuan itu tidak tercapai, maka mematikan pohon itu adalah cara terbaik yang harus mereka tempuh.

Beruntung, pohon cantik tersebut mendapat penjagaan yang sangat rapi dari para pencari kayu bakar yang baik hati. Mereka secara bergiliran mengiring berjalan dengan sangat waspada agar pertumbuhan Sang Pohon terjaga . Selain itu, pohon tersebut rupanya memiliki akar yang dapat menumbuh dengan cepat. Sehingga sari-sari makanan yang ada dalam tanah dapat diserap dengan baik. Demikian juga dengan air yang ada, dapat digunakan oleh Sang Pohon untuk menampung kehidupannya.

Dipendekkan cerita,pohon tersebut telah tumbuh besar, daunnya yang rimbun menghijau membuat mata tak lelah untuk memandang, dari dahan-dahannya lahir wangian semerbak harum yang menyeliputi seluruh hutan, dan satu lagi, pohon cantik tersebut memiliki buah yang sangat manis. Selain dapat menghilangkan dahaga, juga dapat mengenyangkan para penikmatnya. Terasalah berkah Sang Pencipta bagi para pencari kayu bakar, meskipun para penebang pohon yang liar masih saja mencari helah untuk selalu menghapuskan pohon itu.

Namun, demikianlah kudrat keberadaan setiap makhluk yang hidup dan tumbuh di atas muka bumi ini, tak satupun yang abadi! Tak terkecuali dengan keadaan pohon cantik yang disanjung para pencari kayu bakar dan seluruh penghuni hutan. Pada suatu petang, ketika langit mulai gelap, angin pun kencang berhembus. Pucuk pohon cantik bergoyang dengan hebatnya. Ia sekuat tenaga mengimbangi keadaan yang mana pada bila-bila masa boleh menumbangkannya. Sang Pucuk terus bergerak, awalnya hanya berniat untuk mempertahankan diri dari keadaan alam yang ia hadapi.

Tetapi lama-kelamaan ia sedar, bahwa sebenarnya ia dapat mengatasi sepenuhnya serangan angin tersebut. Ia yakin benar telah ditampung oleh akar yang kuat, dan dahan-dahan yang kukuh, serta dedaunan yang dapat menahan laju dan kencangnya angin dengan sempurna. Kerana keyakinannya itulah tiba-tiba ia membuat sebuah gerakan yang tidak disangka-sangka oleh Sang Akar, yang sekuat tenaga mencengkam tanah.

Sang Pucuk menari, bukan hanya mengikut arah angin, namun terkadang ia membuat gerakan yang membingungkan. Sang Akar dalam mempertahankan keseimbangannya. Dan, Sang Akar pun mengeluarkan bantahannya; "Hai, pucuk. Berhentilah menari! Aku bingung melihatmu!" "Kenapa mesti bingung, Akar? Aku tahu benar situasi yang ada. Ikut sajalah!" "Bagaimana aku hendak mengikuti tarianmu, kalau kamu susah diikuti" "Percayalah, akar. Aku diatas mampu melihat semuanya. Bukan hanya batang, daun, dan kau akarku sendiri. Tetapi jarak puluhan batu di sekeliling kita pun dapat aku lihat dengan jelas" "Hai, apa salahnya aku mengingatkanmu, pucuk?" "Kau salah akar, harusnya kau ikut saja apa kataku. Kerana posisimu di bawah, dan kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini!"

"Aduhai…angkuh nian kau, pucuk! Kalaulah tak ada aku, mana mungkin kau dapat berdiri dan berada di atas sana!" "Sudahlah, kenapa kalian malah bertengkar, hah?!" Sang Daun menegahi suasana yang semakin panas. "Kerana dia mulai merasa angkuh, daun!" akar mengarahkan serabut akarnya kepada Sang Pucuk. "Apa urusanmu, akar?! Ikuti sajalah kataku, dan kau akan selamat" "Apakah kalian lupa, hah? Kalian itu saling memerlukan! Tidak akan ada kehidupan kalau tidak aku, kau, dan si akar itu. Sedarlah, saudaraku! kawanku!" Sang Daun kembali berkata-kata dengan perasaan yang sedih kerana pertelingkahan saudaranya sendiri.

Perdebatan demi perdebatan terus bergulir di antara keduanya. Sang Pucuk tidak merasa harus mengalah sedikit pun terhadap Sang Akar. Ia merasa bahawa ialah segalanya, dialah ketua kerana berada di tempat yang paling atas. Ia merasa ditakdirkan Tuhan untuk berada di atas dengan segala penglihatannya yang luas akan dunia ini. Ia merasa Tuhan telah memberikan kekuasaan mutlak kepadanya untuk berbuat sesuka hati. Sementara, Sang Akar merasa kecewa, Sang Pucuk telah mengambil langkah yang keliru dalam melaksanakan upaya menjaga kelangsungan hidup seluruh bagian pohon tersebut. Dan, Sang Daun yang berusaha meleraikan perdebatan itu pun tak berdaya menenangkan keduanya, meski ia tak pernah merasa lelah untuk mendamaikan perseteruan dua saudara satu tubuh itu.

Waktu yang digariskan mungkin saja telah tiba, kerana perdebatan yang berlarutan itu, Sang Akar bermalas-malasan untuk menyerap air dan zat-zat yang dibutuhkannya. Demikian juga Sang Daun, kerana kelelahan melerai perdebatan kedua saudaranya, ia lupa untuk mengolah makanan meskipun matahari terus bersinar sepanjang hari. Dan, Sang Pucuk rupanya semakin terlena. Ia tidak menyadari dua saudara dibawahnya sudah mengalami gangguan. Ia tetap berlenggok mengikuti arah angin dengan irama yang menghiburkan hatinya. Hingga tibalah saat di mana angin justeru berhembus dengan sangat perlahan.

Sang Pucuk terlena kerana desirnya, ia merasa ngantuk dan ia biarkan gerakannya yang tidak beraturan, dan ia pun mulai terpejam. Terlelap dalam tidur yang tidak disedarinya, dan angin datang menyerang. Tubuhnya terkulai. Sang Daun yang lapar tidak berdaya menahan tubuh Sang Pucuk yang datang tiba-tiba. Ia ikut terjatuh. Sementara di bawah, Sang Akar yang bermalas-malasan tidak lagi memiliki cengkaman yang kuat terhadap tanah di sekelilingnya. Sang Akar tidak berkuasa menahan tubuh kedua saudaranya yang terjatuh lebih dulu. Ia tercabut, bercerai-berai.

Beginilah akhirnya kisah pohon cantik,sebuah cerita yang menyedihkan.Para pencari kayu bakar yang baik hati bermuram durja, sementara para penebang liar bergelak tawa, "Tak perlu kita robohkan, kawan. Mereka roboh sendiri kerana permusuhan…!! " "O, bahkan tak perlu angin yang kencang rupanya…….kasihan betul….." demikianlah kata penebang pohon yang liar.

Catatan: Marilah kita jauhi permusuhan yang meleraikan silaturrahim antara kita, janganlah berdendam kerana dendam itu tidak membawa kedamaian.. saling hormat menghormati dan bersatu padulah kita agar syiar Islam dapat diteruskan dan digemilangkan.. dan agar kita tetap menjadi orang yang beriman.. InsyaAllah..


'Perumpamaan orang beriman yang berkasih sayang, dan saling rahmat merahmati dan di dalam kemesraan sesama mereka adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota mengadu sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasainya.'





"akan kusampaikan walaupun sebaris ayat.."

Monday, January 04, 2010

Badai..



Petang itu angin tenang..,


Setelah kelmarin engkau pulang,


Memikul badai,


Ketika musim..,


Kian lazim,


Melagukan geram,


Membekukan dendam..


Dan engkau masih mengeja..,


Titisan dosa,


Di tubuhku,


Yang rentan,


Yang frofan..


Kerana ingin menyangkal..,


Langit sakral,


Yang mungkin runtuh,


Di hujung horizontal,


Hingga gugur daunan hijau,


Dan laut menjadi darah..

Coretan Rasa,

intuisiinsurgensi,

Kuala Krai,

Kelantan.


Wednesday, December 30, 2009

Lelaki Idaman Muslimah..



Lelaki idaman muslimah..,


Biarlah dia seorang yang buta..,


Kerana matanya sunyi dari melihat perkara-perkara maksiat dan lagho,


Kerana kedua matanya terpelihara dari memandang aurat wanita ajnabi,


Asalkan kedua matanya terang dalam memerhati keagungan ciptaan Allah,


Asalkan dia celik dalam melihat kesengsaraan umat Islam di Palestin, Bosnia, Ambon dan seumpamanya..


Biarlah dia seorang yang bisu..,


Bisu dari pujuk rayu yang bisa mengoncang keimanan,


Bisu dari mengungkapkan ungkapan yang bisa meracun fikiran,


Bisu dari perkataan yang bisa mengundang kekufuran,


Asalkan bibirnya sentiasa basah mengingati Tuhan,


Asalkan lidahnya tidak pernah lekang dari membaca Al-Quran,


Asalkan dia petah membangkang kemungkaran dan dia lantang menyuarakan kebenaran..


Biarlah dia seorang yang bakhil..,


Bakhil dalam memberi senyuman pada wanita yang bukan mahramnya,


Bakhil dalam meluangkan masa untuk membuat temujanji dengan wanita ajnabi yang boleh dinikahinya,


Bakhil untuk menghabiskan wang ringgitnya kerana seorang wanita yang tidak sepatutnya..


Tetapi dia begitu pemurah..,

Meluangkan masanya untuk beribadah dengan Khaliqnya,


Dia begitu pemurah untuk mempertahankan aqidahnya,


Pemurah dalam memberikan nasihat dan teguran,

Sehingga dia sanggup menggadaikan hartanya bahkan nyawanya

Demi melihat kalimah syahadah kembali megah di muka dunia..


Biarlah dia seorang yang papa..,


Papa dalam melakukan perkara maksiat,

Papa dalam ilmu-ilmu yang tidak berfaedah dan tidak bermanfaat,

Papa memiliki akhlaq mazmumah..


Tetapi dia cukup kaya..,

Dalam pelbagai ilmu pengetahuan,


Dia begitu kaya memiliki ketinggian akhlaq dan budi pekerti yang mulia,


Dia begitu kaya dengan sifat sabar dalam mengharungi tribulasi kehidupannya,

Dan dia seorang yang kaya dalam menanam impian untuk menjadi seorang syuhada yang syahid di jalan Allah..

Sunday, December 13, 2009

Kesan Zikir Terhadap OTAK


Otak hanyalah aktiviti-aktiviti bio-elektrik yang melibatkan sekumpulan saraf yang dipertanggungjawabkan untuk melakukan tugas-tugas tertentu bagi membolehkan ia berfungsi dengan sempurna. Setiap hari 14 juta saraf yang membentuk otak ini berinteraksi dengan 16 juta saraf tubuh yang lain. Semua aktiviti yang kita lakukan dan kefahaman atau ilmu yang kita peroleh adalah natijah daripada aliran interaksi bio-elektrik yang tidak terbatas.


Oleh itu, apabila seorang itu berzikir dengan mengulangi kalimat-kalimat Allah, seperti Subhanallah, beberapa kawasan otak yang terlibat menjadi aktif. Ini menyebabkan berlakunya satu aliran bio-elektrik di kawasan-kawasan saraf otak tersebut. Apabila zikir disebut berulang-ulang kali, aktiviti saraf ini menjadi bertambah aktif dan turut menambah tenaga bio-elektrik. Lama-kelamaan kumpulan saraf yang sangat aktif ini mempengaruhi kumpulan saraf yang lain untuk turut sama aktif. Dengan itu, otak menjadi aktif secara keseluruhan. Otak mula memahami perkara baru, melihat dari sudut perspektif berbeza dan semakin kreatif dan kritis, sedang sebelum berzikir otak tidak begini. Otak yang segar dan cergas secara tidak langsung mempengaruhi hati untuk melakukan kebaikan dan menerima kebenaran.


Hasil kajian makmal yang dilakukan terhadap subjek ini dimuatkan dalam majalah Scientific American, keluaran Disember 1993. satu kajian yang dilakukan di Universiti Washington dan ujian ini dilakukan melalui ujian imbasan PET yang mengukur kadar aktiviti otak manusia secara tidak sedar. Dalam kajian ini, sukarelawan diberikan satu senarai perkataan benda. Mereka dikehendaki membaca setiap perkataan tersebut satu persatu dan mengaitkan perkataan-perkataan dengan kata kerja yang berkaitan. Apabila sukarelawan melakukan tugas mereka, beberapa bahagian berbeza otak mempamerkan peningkatan aktiviti saraf, termasuk di bahagian depan otak dan korteks.


Menariknya, apabila sukarelawan ini mengulangi senarai perkataan yang sama berulang-ulang kali, aktiviti saraf otak merebak pada kawasan lain dan mengaktifkan kawasan saraf lain. Apabila senarai perkataan baru diberikan kepada mereka, aktiviti saraf kembali meningkat di kawasan pertama. Ini sekali gus membuktikan secara saintifik bahawa perkataan yang diulang-ulang seperti perbuatan berzikir, terbukti meningkatkan kecergasan otak dan menambah kemampuannya.


Oleh itu, saudara-saudaraku se-Islam, ketika saintis Barat baru menemui mukjizat ini, kita umat terpilih ini telah lama mengamalkannya dan menerima manfaatnya. Malang bagi mereka yang masih memandang enteng kepentingan berzikir dan mengabaikannya.

“akan kusampaikan walaupun sebaris ayat..”

Friday, December 04, 2009

Al-Quran Kecil Itu...


Si anak bergelar Haikal (bukan nama sebenar) adalah seorang mahasiswa tahun akhir jurusan perubatan di salah sebuah IPTA di ibu kota. Dia merupakan anak tunggal kepada ahli perniagaan yang terkenal dan disegani, iaitu DatoRamdzan. Malangnya, Haikal juga merupakan seorang anak yatim. Ibunya meninggal dunia sejak dia dilahirkan lagi. Oleh kerana Haikallah satu-satunya yang dipunyai oleh DatoRamdzan di dunia ini, maka sejak kecil lagi dia dimanja dan dibanjiri dengan kemewahan serta menjadi anak emas kepada keluarganya. Tambahan pula, Haikal tinggal bersama orang tuanya.Apa saja yang diingininya, pasti ditunaikan. Seperti gelora anak-anak muda yang lain, Haikal amat menggilai sport car. Dia mengharapkan sebuah Mitsubishi Lancer yang menjadi kegilaan anak-anak muda pada masa itu, daripada walidnya sebagai penghargaan bagi pahit-jerihnya dalam menuntut ilmu yang penuh mehnah dan tribulasi itu. Hajat yang dipendamkan Haikal selama ini akhirnya dizahirkan jua pada suatu petang.

“Walid, boleh tak Haikal nak cakap sesuatu?”

“Boleh, nape anak walid nie? Ada masalah ke? Cube bagitau sikit kat walid,” balas si ayah.

Tanpa berlengah-lengah, Haikal meluahkan isi hatinya kepada walidnya. Senyuman… itulah yang mula diekspresikan oleh orang tua itu. Sejak dari itu, Haikal bertambah yakin bahawa kehendaknya akan dituruti.

“Yups, kereta idamanku akan berada dalam genggamanku tak lama lagi. Aah.., pe sangat lar dengan exam final block tue, kan aku dah selalu dapat distinction, kacang je tue. Yang penting, hajatku tercapai. Hehe.. Aja..Aja..Fighting!” bisik hati Haikal yang bersemangat waja itu.

Haikal bersungguh-sungguh menelaah pelajaran agar membuahkan hasil yang lebih cemerlang dari yang sebelumnya. Semua yang dilakukannya semata-mata untuk memastikan agar impian yang termaktub dalam mindanya selama ini menjadi nyata.

Hari demi hari, minggu berganti minggu, masa yang berlalu dirasakan cukup perlahan sekali. Namun Haikal tetap sabar menanti result peperiksaannya diumumkan walaupun hatinya bergelodak umpama gegendangan mahu perang. Ternyata, dengan berkat keazaman dan kesungguhannya, Haikal memperoleh distinction lagi. Suatu hari, Dato’ Ramdzan memanggil Haikal ke bilik bacaan. Dia menyatakan betapa bangganya hati seorang bapa sepertinya dengan kejayaan anaknya yang cukup cemerlang. Tambahan pula, Haikallah satu-satunya zuriat kandung kesayangannya. Ya, zuriat kesayangan yang bakal mewarisi hartanya. Zuriat kesayangan yang bakal mendoakannya ketika di alam Barzakh nanti. Pujian demi pujian diterima Haikal, bukan sahaja daripada walidnya, malahan seluruh penghuni rumah dan juga warga kampusnya itu. Masing-masing tidak putus-putus menghulurkan ucapan tahniah dan rasa bangga terhadap pencapain Haikal itu.

Haikal tersenyum puas. Jelas… di riang matanya terbayang kilauan Mitsubishi Lancer merah yang selama ini menjadi dambaan hatinya. Dato’ Ramdzan yang bagaikan mengerti kehendak Haikal, menghulurkan sebuah kotak yang berbungkus rapi dan cantik kepada anak kesayangannya itu. Haikal bermonolog dalaman…”Sungguh, ini bukan yang kuhajatkan! Takpe, takpe..we wait and see.”

Dengan hati yang berat, kotak itu bertukar tangan. Mata Haikal terarah kepada riak wajah ayahnya yang tidak menunjukkan sebarang reaksi. Seolah-olah tidak dapat membaca persoalan yang bersarang di lubuk kalbunya.

Namun, Haikal tetap mahu membuka pembalut yang membungkus kotak itu. Penutup kotak dibuka. “Apa makna semua ini?? Hanya sebuah al-Quran kecil bersalut kulit berwarna hijau pekat… dengan tinta emas menghiasi tulisan khat di front page?! Huhu..” intuisinya bersuara lagi.

Haikal memandang walidnya. Terasa dirinya dipermainkan. Nafsu amarahnya membuak-buak. Begitu juga dengan darah mudanya.

“Walid sengaja mahu mempermaikan Haikal..Walid bukannya tak tau yang Haikal berkenang sesangat ngan kete tue! Bukannya walid tak mampu membelinya, saje je kan nak sakitkan hati Haikal?! Ah, malaslah nak melayan orang tua yang tak sedar diri nie!!”

Begitu keras sekali nada suara yang ditatang bagai minyak yang penuh itu. Kini anak kesayangannya itu menumpahkan minyak panas ke mukanya sendiri.

Al-Quran kecil itu terus dihempaskan ke atas meja bacaan. Luluh hati seorang ayah melihat anaknya besikap biadap sebegitu. Haikal terus meninggalkan walidnya tanpa member walau sepitching pun untuk walidnya bersuara. Pakaiannya disumbatkan ke dalam beg. Haikal bertekad ingin meninggalkan banglo mewah walidnya untuk memulakan kehidupan baru dengan sekeping ijazah yang dimilikinya.

Hari demi hari berlalu. Kini genaplah 10 tahun Haikal tidak pulang ke bangle mewah milik ayahnya. Haikal kini merupakan seorang pengarah di salah sebuah hospital kerajaan di Sarawak. Dia memiliki isteri yang cantik dan dikurniakan anak-anak yang sihat. Cukup selesa dan cukup membahagiakan. Zahirnya, Haikal kelihatan seperti seorang yang sempurna kerna mempunyai segala-galanya…tapi, tiada siapa yang tahu..hatinya kosong. Haikal selalu merasakan ada sesuatu yang memanggil-manggilnya untuk pulang berjumpa dengan walidnya.

“Ring, ring…”; telefonnya berdering.

“Assalamu’alaikum w.b.t.. Boleh saya bercakap dengan Encik Afiq Haikal Bin Dato’ Haji Mohd Ramdzan? Saya merupakan peguam kepada ayah encik iaitu Dato’ Haji Mohd Ramdzan.. ingin menyampaikan amanat daripada ayah encik yang telahpun meniggal dunia sebulan yang lalu..Encik dijemput hadir ke ibu pejabat kami di Shah Alam dalam masa terdekat untuk membuat tuntutan wasiat.”

Dengan hati yang penuh debaran, Haikal bergegas ‘terbang’ ke Semenanjung pada keesokan harinya untuk hadir ke pejabat peguam yang dimaksudkan.

“70 ekar lading lembu, 30 buah bangle mewah dan Syarikat Perusahaan Insurgent Berhad kesemuanya diwasiatkan kepada Afiq Haikal Bin Dato’ Haji Mohd Ramdzan.”

Linangan air mata membasahi pipi. Terasa lemah seluruh sendi. Seperti tidak memijak di bumi yang nyata. Haikal akhirnya terkulai layu mendengar bait-bait peguam ayahnya itu.

Dan buat pertama kalinya setelah dia bergelar suami dan bapa, Haikal pulang ke bangle walidnya. Haikal memerhatikan banglo yang masih utuh meskipun ditelan zaman itu, yang menyimpan 1001 nostalgia dalam hidupnya. Hatinya sebak, bertambah sebak apabila mendapati di atas meja bacaannya ialah sebuah al-Quran yang dihempaskannya suatu ketika dahulu, masih lagi setia berada di situ. Bagaikan setianya hati ayahnya mengharapkan kepulangannya selama ini..

Perlahan-lahan, langkahnya menuju ke situ dan mengambil al-Quran kecil itu. Haikal membelek-beleknya dengan penuh keharuan. Tiba-tiba, jatuh sesuatu dari al-Quran itu segugus kunci. Di bahagian belakang al-Quran itu .. terselit sebuah sampul surat yang dilekatkan di situ. Kunci itu segera dipungut. Hatinya tertanya-tanya. Nyata sekali, di dalam sampul surat itu, terdapat resit pembelian kereta idamannya yang dibeli pada hari konvokesyennya dengan bayaran yang telahpun dilunaskan oleh walidnya. Sepucuk warkah, tulisan tangan orang yang amat dikenalinya selama ini..

Hadiah teristimewa untuk putera kesayanganku,

Afiq Haikal Bin Dato’ Haji Mohd Ramdzan

IKHLAS DARIPADA : WALID

Air mata Haikal menitis deras. Hatinya bagai ditusuk sembilu bisa. Penyesalan mula bertandang. Namun, semuanya sudah terlambat…

Catatan (sekadar renungan bersama) : Sesungguhnya, betapa banyaknya kita melupakan nikmat Allah kepada hamba-Nya yang dhaif ini, hanya semata-mata kerana nikmat itu tidak ‘dibungkus’, didatangkan atau diberi dalam keadaan yang kita hajati. Kita sering bersungut dengan kekurangan yang nyata.. sedangkan banyak lagi nikmat-Nya yang tidak terhitung yang diberi oleh-Nya.

Ikhlaskanlah niat kita dalam setiap amalan kita biarpun kita tidak dapat melihat ganjarannya di depan mata buat masa ini, tetapi yakinlah di akhirat sana ganjarannya pasti cukup besar dan bermakna. Itulah kemanisan hasil usaha kita yang bersungguh-sungguh dan ikhlas semata-mata mengharapkan redha-Nya.

Janganlah sesekali mengharapkan pujian atau sanjungan daripada orang lain atas amalan kita kerna ditakuti boleh menghapirkan diri kepada riak. Ingatlah segalanya itu terlaksana dengan keizinan daripada-Nya yang memberi secebis kudrat-Nya kepada kita. Sememangnya pujian dapat member perangsang kepada seseorang untuk berusaha lebih gigih, akan tetapi jika berlebihan ditakuti akan memakan diri. Wallahu a’lam..

“akan kusampaikan walau sebaris ayat..”